Trisula Sinergi Indonesia | Training, Consulting, Digitalization

Production KPI menggunakan OEE (Overall Equipment Effectiveness)

Posted : 16 October 2021 | by Admin | Category : Production

262 views

Production KPI menggunakan OEE (Overall Equipment Effectiveness)

Ada perusahaan yang berbisnis air mineral yang selalu kita minum sehari-hari, yaa Aqua. Sebagai pelopor AMDK (Air Mineral Dalam Kemasan) di Indonesia, AQUA telah menjadi merek generik di kalangan produk AMDK.

Apa yang membuat AQUA sukses? Selain dari inovasi sebagai pelopor, yang kedua yakni mampu mempertahankan sebagai Market Leader dalam mengelola standard pada manajemen operasi, yang disebut dengan Key Performance Indicator (KPI). Ya, KPI sudah menjadi jargon umum saat ini. Apalagi jika mendekati akhir tahun, pasti banyak yang sibuk dengan KPI-nya. Apakah sudah mencapai target atau belum. Soalnya, KPI umumnya berhubungan dengan bonus. Yang jelas, KPI akan membantu organisasi menilai kinerja bisnisnya apakah mencapai target yang diinginkan atau tidak. Apa yang bisa diukur maka akan bisa disempurnakan. KPI juga dikenal sebagai Performance Metric, Business Indicator, Measures atau Performance Ratio.

Contoh KPI antara lain adalah : ROI dan EBITDA (keuangan), Customer Satisfaction Index dan NPS (marketing),  Defect dan Time Delivery (operasional), Leadership Scorecard dan Jumlah training yang diiukuti (Hrd). Tentunya KPI untuk level direktur berbeda dengan level manager, supervisor atau frontliner.

 

Production KPI

KPI menjadi bagian dari kombinasi yang akan dijadikan sandaran oleh perusahaan untuk mengevaluasi manajemen operasi maupun karyawannya.

Pada bagian produksi, untuk melakukan aktivitas KPI atau pengukuran kinerja bisa menggunakan OEE (Overall Equipment Effectiviteness). Indikator ini bisa diandalkan oleh bagian produksi karena lebih mudah begitu juga untuk operasioalnya bisa dilakukan.

Pengertian dari overall equipment effectiveness atau OEE adalah suatu perhitungan yang dilakukan guna menentukan nilai efektivitas mesin atau peralatan yang tersedia. OEE adalah salah satu metode yang tersedia di dalam TPM atau Total Productive Maintenance. Sebagai aturan, maka OEE bisa digunakan sebagai indikator performa mesin atau sistem.

Tujuan utama dari OEE adalah untuk bisa menilai kinerja produksi. Anda bisa menggunakan metode ini agar bisa memeriksa ketersediaan pada mesin ataupun sistem, efisiensi produksi, dan juga kualitas produksi mesin atau sistem perusahaan.

OEE (%) = Availability Operation (%) x Performance Efficiency (%) x Rate of Quality Product (%)

1.       Downtime loss yang mempengaruhi Availability Operation,

2.       Speed loss yang mempengaruhi Performance Efficiency, dan

3.       Quality loss yang mempengaruhi Rate of Quality Product

Teknisnya dalam mengukur atau menghitung kinerja menggunakan OEE pada bagian produksi yaitu dengan menghitung lama waktu untuk 1 shiftnya, waktu istirahat, downtime, target produksinya, ideal run rate, hasil total untuk 1 shift, dan jumlah scrat reject. Variable yang sebelumnya perlu dihitung yaitu:

1.       Planned Production Time atau Effective Working Hour, rumusnya yaitu lama waktu kerja setiap 1 shift – waktu istirahat

2.       Operating Time atau Nett Time, rumusnya yaitu Planned Production Time – Downtime

3.       Good Product, rumusnya yaitu hasil total – jumlah reject

 

Selanjutnya, hitung OEE faktor. OEE faktor ini terdiri dari availability, performance, serta quality.

1.       Availability = (Operating Time : Planned Production Time) x 100%

2.       Performance = ((Total Ouput Produksi x Cycle Time Standard) : Operating Time) x 100%

3.       Quality = (Good Product : Hasil Total Produksi) x 100%

 

Contoh:

Waktu operasional = 8 jam (480 menit)

Waktu setup = 10 menit

Breakdown = 0 menit

Availability = (480 – 10 – 0) / 480 = 98%

Waktu running = 470 menit

Cycle time = 17 detik per unit

Jumlah produk diproses = 1400 unit

Performance Efficiency = (17 detik x 1400 unit) / 470 menit = (23800 detik) / (28200 detik) = 84%

Jumlah cacat = 168 unit

Quality rate = (1400 – 168) / 1400 = 1232 / 1400 = 88%

OEE (Overall Equipment Effectiveness) = 98% x 84% x 88% = 72%

 

Bagaimana kita menganalisis skor-skor di atas?

Japan Institute of Plant Maintenance (JIPM) telah menetapkan standar benchmark yang telah dipraktekan secara luas di seluruh dunia.

Jika OEE = 100%, produksi dianggap sempurna: hanya memproduksi produk tanpa cacat, bekerja dalam performance yang cepat, dan tidak ada downtime.

Jika OEE = 85%, produksi dianggap kelas dunia. Bagi banyak perusahaan, skor ini merupakan skor yang cocok untuk dijadikan goal jangka panjang.

Jika OEE = 60%, produksi dianggap wajar, tapi menunjukkan ada ruang yang besar untuk improvement.

Jika OEE = 40%, produksi dianggap memiliki skor yang rendah, tapi dalam kebanyakan kasus dapat dengan mudah di-improve melalui pengukuran langsung (misalnya dengan menelusuri alasan-alasan downtime dan menangani sumber-sumber penyebab downtime secara satu per satu).


Comments :