Trisula Sinergi Indonesia | Training, Consulting, Digitalization

Benarkah Tesla Way bisa mengalahkan Toyota Way? (Toyota Production System)

Posted : 16 October 2021 | by Admin | Category : Lean Management

259 views

Benarkah Tesla Way bisa mengalahkan Toyota Way? (Toyota Production System)

Dalam era industry 4.0 saat ini, kecepatan dalam perencanaan dan kepekaan dalam membaca kemauan konsumen di masa saat ini menjadi sangat penting dalam meningkatkan penjualan, Elon Musk sebagai CEO Tesla menjawab tatangan dalam persaingan dengan Toyota. Perusahaan mobil listrik yang bermarkas  di Palo Alto, California, Amerika Serikat, saat ini menjadi pelopor bagi perusahaan sejenis dalam memproduksi mobil listrik.

Sedangkan Toyota memiliki jargon yaitu “Do it right the first time we don’t always get a second chance”. Toyota memilliki perencanaan yang sangat matang di awal baik itu waktu, tenaga serta gagasan. Untuk memproduksi produknya  dan saat produksi tidak boleh ada kesalahan sedikitpun dari a sampai z. Sedangkan jargon dari Tesla adalah “Move fast, break thing, Fail fast, Learn faster”.

Robot vs. Human

Dalam kegiatan berproduksi, Tesla banyak menerapkan otomatisasi dan robot yang memungkinkan produksi bebas dari kesalahan dan pelatihan tenaga kerja. Namun Toyota justru lebih banyak menekankan pada human. Seperti yang dikatakan oleh Jeffrey Liker pada buku Toyota Way : “para karyawan yang ada di lini produksi diharapkan berperan sebagai sumber pembelajaran dan perbaikan. Inovasi hanya dapat diotomatisasi setelah terbukti berfungsi secara manual”.

Filosofi utama dari Toyota Way adalah Respect to People dan Continuous Improvement, dan secara terus menerus diterapkan dalam manajemen operasi melalui Toyota Production System (TPS).

Sejarah TPS

Toyota Production System dikembangkan oleh Taiichi Ohno, Vice-President Executive Toyota, di tahun 1950-an yang terinspirasi oleh semangat kaizen. KAIZEN; atau penyempurnaan kecil yang terus-menerus, telah membuat Toyota berevolusi di mana dalam jangka panjang tampak membuahkan hasil yang revolusioner. Praktek kaizen berakar dari ide Sakichi Toyoda (1867-1930), pendiri grup Toyota. Pada 1890, tanpa bantuan pihak ketiga melakukan upaya penyempurnaan mesin pintal varian dari sistem flying shuttle hasil penemuan 150 tahun sebelumnya di Lancashire, Inggris. Dalam jangka waktu 35 tahun, dengan praktik kaizen-nya terhadap temuan pertama ia menyalip kepemimpinan teknologi Eropa selama 150 tahun dengan keberhasilannya menciptakan mesin pintal fully automatic pertama di dunia. Hak patennya dijual ke Platt Brothers, pabrik tekstil terkemuka Lancashire, Inggris. Di masa ini juga ia menguraikan pemikiran tentang perlunya “sistem menghentikan proses produksi saat ada masalah” atau istilahnya JIDOUKA, istilah dalam bahasa Jepang yang berarti otomasi dengan pengetahuan manusia.

Pada tahun 1926 berdiri Toyoda Automatic Loom Works Ltd. (sekarang Toyota Industries Co. Ltd.), di bulan September 1933 mengembangkan divisi otomotif. Berkat “gen” kaizen yang diturunkan, perkembangan awalnya begitu cepat sehingga diputuskan menjadi perusahaan independen.

Sakichi Toyoda menunjuk putra Kiichiro Toyoda (1894-1952) sebagai President Toyota Motor Co. Ltd. Sebagai salah satu persiapan, pada awal 1930-an, Kiichiro Toyoda diutus ke AS mempelajari sistem produksi massal yang dikembangkan Henry Ford (1883-1947). Menyesuaikan diri dengan pasar Jepang yang kecil, Kiichiro Toyoda; yang mewarisi kejeniusan ayahnya, menciptakan sistem yang dia namakan JUST-IN-TIME (JIT). JIT merupakan sistem produksi tepat waktu, di mana setiap proses hanya memproduksi sejumlah komponen yang diperlukan pada langkah selanjutnya dalam lini produksi, sesaat sebelum diperlukan dengan tepat waktu.

 

Pada 1956, Taiichi Ohno ke AS mengunjungi “The Big Three” (GM, Ford, dan Chrysler). Tujuannya, seperti Kiichiro Toyoda untuk menyadap secara selektif teknologi dan praktek terbaik dari industri otomotif yang telah mapan (bukan mendapatkan transfer teknologi langsung sehingga bisa tetap independen). Yang menarik, ide TPS itu justru bukan berasal dari pengamatannya terhadap pabrik otomotif tersebut. VP Executive Toyota ini mendapatkan inspirasi dari supermarket yang sejak lama telah bertebaran di AS.

Terkesan pada kenyataan betapa konsumen bebas memilih apa dan berapa yang mereka inginkan, timbul idenya mengembangkan PULL SYSTEM. Dalam sistem ini, setiap lini produksi menjadi supermarket bagi lini produksi berikutnya. Setiap lini hanya akan mengganti item yang diperlukan atau dipilih oleh lini berikutnya sehingga sistemnya sangat ramping (secara umum disebut sistem LEAN PRODUCTION). Ia juga menciptakan sistem KANBAN (kartu penanda) untuk pengisian stok komponen atau hasil rakitan yang belum jadi (sub-rakitan).

Untuk menunjang sistem yang perlu akurasi tinggi tersebut, dibentuk jaringan pemasok kelas dunia. Koordinasi erat dengan jaringan pemasok ini memungkinkan sistem inventori JIT yang super-efisien dan efektif. Dan, ketika disertai kemajuan teknologi, dikembangkanlah sistem perakitan super-canggih yang antara lain menggunakan robot.

Namun, yang membuat Toyota menjadi “Market Leader” adalah sistem manajemen SDM-nya yang efektif dan efisien, memiliki loyalitas tinggi dan komitmen kuat terhadap kualitas. TPS yang berkembang secara evolusioner di tengah segala kekurangan dan kendala pada dasawarsa awal membuat sistem yang dikembangkan secara organik itu meresap kuat kedalam budaya perusahaan sampai saat ini.

Dengan kata lain, TPS bukan lagi sekadar sistem produksi melainkan falsafah perusahaan yang akan diterus dijalankan dan dikembangkan.


Comments :